Senin, 08 September 2008

Allah dan Slang-Slang AC


Aku ini kere yang sering memperoleh kesempatan untuk munggah mbale. Maksudku, karena dari hari ke hari hidupku hampir selalu di perjalanan dan berpindah-pindah tempat untuk memenuhi undangan-undangan – baik dari orang-orang yang benar-benar mempercayaiku, maupun dari orang-orang yang sekedar membutuhkanku namun diam-diam ngedumel di dalam hati mereka – maka terkadang aku diinapkan di hotel-hotel.
Sesekali di hotel berbintang banyak. Saat lain di hotel sedengan. Terkadang di losmen, di mess, atau di rumah kosong yang tak ditempati karena si empunya tidak mungkin membagi punggungnya ditugel-tugel jadi banyak agar bisa menempati banyak rumahnya. Yang aku selalu merasa terancam adalah kalau ditidurkan di rumah orang, artinya di rumah yang dihuni oleh sebuah rumah tangga. Soalnya pasti tuan rumahku orang baik, selalu menjamu dan menghormati secara maksimal, menyediakan makan minum dan tempat tidur yang lebih dari layak. Kemudian kami harus dayoh-dayoh- an penuh sopan santun dan wajib penuh basa basi. Lantas sekitar jam 23.00 aku dipersilahkan tidur – dan inilah puncak ancaman bagiku. Mana mungkin aku tidur jam segitu sampai pagi. Aku tidak mampu menikmati tidur sebagai acara tidur. Maksudku, aku harus selalu bekerja keras sampai badanku tidak kuat dan lantas secara alamiah aku tidur. Aku tidak pernah akrab dengan ranjang dan kasur, sebab aku
mendatanginya hanya ketika aku sudah sangat mengantuk dan kesadaranku tinggal lima watt. Tak mungkin aku bergaul intensif dengan siapapun dan dengan apapun hanya dengan bekal kesadaran lima watt.
Bukannya aku meremehkan tidur. Tidur itu sangat penting. Tetapi bagiku tidur itu bukan terutama merupakan mekanisme budaya atau kegiatan budaya dalam hidupmu. Tidur itu kegiatan alam. Pekerjaan natural. Itu keharusan atau sunnah dari Allah pada momentum tertentu setiap hari. Oleh karena itu sering aku heran kepada orang-orang yang begitu sibuk mengurusi ranjang, membeli kasur dengan segala keindahannya. Padahal kasur itu urusannya orang tidur. Dan tidur itu urusannya orang mengantuk. Dan kalau orang sudah dalam keadaan sangat mengantuk, ia hampir tidak perduli apakah yang di depannya itu kasur ataukah tikar. Oleh karena itu bagiku, tidur tidak perlu aku programkan dalam kebudayaan. Ia alamiah.
*****

Pertanyaan yang ingin kuajukan dalam tulisan hari ini adalah: apakah kesadaran dan pergaulan kita dengan Allah itu merupakan sesuatu yang engkau biarkan berlangsung alamiah, ataukah perlu engkau terjemahkan ke dalam rancangan-rancangan budaya? Termasuk di sini, berapa watt-kah kapasitas kesadaran dan pergaulan kita dengan Allah swt.?
Itulah sebabnya di awal tulisan ini aku bercerita tentang hotel-hotel. Pada suatu senja bersama sejumlah kawan aku mencari mushallah di sebuah hotel besar internasional di Jakarta. Kami hendak maghriban bareng menjelang menghadiri pembukaan Pameran Lukisan Kaligrafi di hotel tsb.
Kami berjalan menerobos bagian-bagian bawah dari hotel itu. Kami melewati lorong-lorong panjang dan berliku-liku. Akhirnya tiba di mushallah yang terletak sangat di pojok dan tersembunyi. Kalau sendiri, tak bisa kujamin aku akan bisa menemukannya.
Seusai shalat, aku hendak berdoa macam-macam, yang mendadak yang bersuara dalam hatiku adalah keluhan, dan kuucapkan itu perlahan-lahan. "Ya Allah Kekasihku, apakah Engkau merasa sepi? Engkau di sembunyikan di sini, di pojok bawah. Engkau bukan sesuatu yang penting bagi rancangan dan konsep hotel yang mewah ini. Engkau tidak primer. Engkau tidak nomer satu. Engkau tidak disediakan tempat di etalase terpenting dari performance hotel ini. Ketika para arsitek membangun tempat ini, tak ada alokasi atau ingatan tentangMu, barangkali. Rumah atau mushallaMu ini tampaknya juga tidak sejak semula dibangun sebagai mushalla. RumahMu ini sekedar sebuah ruangan yang dipaksakan untuk dipakai sebagai tempat shalat, karena kebetulan banyak karyawan hotel ini yang beragama Islam. Ya Allah, apakah Engkau merasa kesepian? Tidak. Aku tahu Engkau tidak kesepian. Engkau tidak bersemayam hanya di mushalla ini. Engkau bisa aku jumpai di manapun. Aku bisa menghadapMu di bagian
manapun dari hotel ini. Tetapi yang kutangiskan adalah kenapa Engkau begitu tidak dianggap penting, bahkan mungkin dianggap tidak ada, oleh mereka yang membangun dan menikmati gedung-gedung di muka bumiMu. Padahal tanah ini tanahMu. Material apapun yang dipakai untuk membangun hotel ini adalah milikMu. Juga semuanya, apa saja dan siapa saja yang menghuni dan lalu lalang di gedung ini, adalah sematamata Engkau yang menciptakan dan Engkau yang menganugerahkan kepada mereka segala jenis rizqi dan kekayaanMu.. ."
Itu terjadi beberapa bulan yang lalu. Seusai shalat aku berlari mencari telpon dan kuhubungi saudara-saudaraku di Jombang. Spontan aku katakan: "Malam ini juga cari empat orang yang sangat miskin tapi yang akhlaqnya baik. Kasih tahukan dan pandulah mereka untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk naik haji. Uang ONH saya kirim besok pagi".
*****
Mungkin aku agak sentimental dengan keluhan semacam ini. Semestinya aku juga bisa berpikir bahwa kultur hotel-hotel yang berlaku adalah memang produk dari peradaban sekular abad 20. Tetapi aku tidak juga bisa menganggap bahwa budaya hotel dari kosmos industri dan kapitalisme sekular ini tidak memiliki sentuhan religius, karena hampir selalu bisa kujumpai The Holly Bible di laci meja kamar-kamarnya.
Harus kita akui bahwa juga ada hotel-hotel yang menyediakan Kitab Al-Quran serta tulisan petunjuk kiblat di atap kamar. Bahkan kini sudah pula berdiri beberapa hotel yang segala sesuatunya dirancang untuk suatu mekanisme kehidupan yang Islami. Segala sesuatu dalam kebudayaan ummat manusia memang terus berkembang ke berbagai arah. Semuanya sedang terus melakukan tawar-menawar dengan ragam nilai-nilai.
Di atas semua itu aku tetap bersyukur. Meskipun di berbagai hotel berbintang engkau jumpai mushalla hanya bersifat darurat di pojok-pojok, di basement, bahkan di ruang-ruang bawah tanah di mana kalau kita shalat di atas kita terdapat slang-slang AC bersilang-silang, sehingga terasa Allah sebegitu dimarginalisir – kuanjurkan engkau tetap bersyukur. Karena hikmah, karomah dan mashlahah disediakan olehNya di segala macam tempat.
Jum'at kemarin aku tinggal di sebuah hotel milik seorang menteri yang namanya memakai idiom dari Quran, yang rekruitmen karyawan-karyawanny a juga mengutamakan yang beragama Islam. Tapi tempat jum'atannya adalah di pojok tempat parkir, yang ruangnya sangat sempit, sehingga para jamaah tumpah keluar, dan kami mendengarkan khutbah campur mobil yang berseliweran. Ketika naik ke kamar, kubuka laci, kujumpai Bible, dan aku bergumam: "Kalau memang yang dimaksud kebudayaan modern adalah aktualisasi demokrasi, mestinya tidak banyak biaya untuk juga membeli Qur'an, Bagavadgita, syukur kitab asli Zabur, Taurat dan Injil.****
(EAN/2000/ PmBNetDok)

Membeli Fitnah


BENARKAH ada sanak saudaramu yang harus berkorban sedemikian besar, sampai pun nyawanya, demi keserakahan sejumlah orang -- yang bahkan tak dikenalnya -- terhadap sekati upah?
Benarkah anggota keluarga Anda harus membayar sebegitu mahal kepada pentas primordialisme yang sempit? Demi fanatisme dan taqlid yang sebuta- butanya. Atau, bahkan demi pertarungan yang hanya berisi kebodohan, nafsu dan emosi yang tidak jernih arahnya, serta ketidakpahaman dan ketergesaan. Maka kecemasan yang saya alami tidak hanya terhadap kemungkinan chaos yang heboh, tapi juga terhadap kebebalan yang 'tenang'.

Diam-diam, sesungguhnya, jauh di lubuk jiwa saya terdapat juga rasa asyik menyaksikan atau mengalami benturan dan peperangan. Tapi untuk apa dulu? Bersediakah Anda mengalami itu semua untuk suatu kesibukan nasional satu bulan yang pada hakikat dan kenyataannya tidak ada keterkaitan yang realistis dengan perjuangan nasib Anda sendiri sebagai rakyat kecil?

Bertamulah ke rumah orang-orang pandai. Para dosen, pastur atau kiai. Bertanyalah kepadanya apakah gegap gempita yang sedang kita selenggarakan hari-hari ini memiliki prospek yang nyata terhadap impian perubahan yang sesungguhnya, yang nasib struktural rakyat bergantung padanya?

Maka bergembiralah dengan semua pesta itu, namun dengan sanggup melakukan pengaturan takaran. Pacing. Bukan menyediakan pasak yang jauh lebih besar dibanding tiang rapuh yang tersedia sekarang ini.

Ada anak-anak muda 'minta izin' -- anehnya -- kepada saya. "Cak, biar deh saya dipenjara, asalkan puas hati ini. Ayolah kapan kita serbu dan bakar...!"

Tentu saja saya masih bisa tidak gila untuk memberikan jawaban yang tepat terhadap desakan emosi kerakyatan, yang sesungguhnya saya mafhum benar latar belakangnya. Semangatnya penuh enerji 'jihad', tapi belum ada titik koordinat yang menyilangkan pertemuan antara konteks atau tema dengan momentum yang tepat.

Kalau boleh, naluri seperti itu hendaklah 'dipenjarakan' bis-shobri was- sholah -- sampai ada konteks dan sa'ah sejarah di mana gumpalan tenaga semacam itu kita perlukan.

***
JIWA kekanak-kanakan saya juga punya semacam rasa senang terhadap letusan-letusan kecil atau besar, dengan tema apapun. Tapi yang disebut 'aga- ma' adalah kesanggupan mental dan akal budi untuk tidak menggerakkan kaki kehidupan ini berdasarkan apa yang kita sukai, melainkan berdasarkan apa yang wajib dan benar menurut Allah.
Saya mohon maaf untuk mengatakan hal seperti ini. Bahkan terhadap fitnah-fitnah besar dalam hidup saya, Insya Allah saya bukan hanya tak bersedia meladeni atau mengeluarkan enerji sedikit pun, melainkan kalau perlu, saya bersedia membeli fitnah-fitnah itu. Saya bersedia membayar orang- orang yang memfitnah saya, demi ma'unah, fadhilah dan karomah.

Maka kalau saya merasa cemas, Insya Allah kecemasan yang saya maksudkan bukanlah situasi mental, melainkan manifestasi dari kesadaran akan pengetahuan dan kewajiban hidup.

Pernahkah Anda bertanya kepada diri sendiri seberapa besar kadar keprihatinan dan kecemasan Anda terhadap tingkat kemunkaran politik, hukum dan ekonomi di sekitar kita.

Seberapa besar pulalah kecemasan Anda terhadap kenyataan betapa orang- orang justru tidak cemas terhadap itu semua? Seberapa cemaskah Anda terhadap ketidakpedulian kita semua atas seberapa jauh bangsa ini mengalami 'defisit nilai' demokrasi, moral, keberbudayaan dan keberadaan. Dalam bentuknya yang kasar dan transparan, maupun yang halus, canggih dan kita sangka kebaikan dan ketenteraman? ***
(Emha Ainun Najib/2007/PmBNetDo k)

Kesaksian Sederhana Orang Biasa


Kesaksianku tentang dunia hanya bisa sederhana
Karena jenis dan standar kebahagiaanku memang sangat biasa-biasa saja

Kaki hidupku tidak meloncat menggapai langit
Tak ada yang kukejar hingga lari terbirit-birit

Tanganku tidak mengacungkan tinju ke angkasa
Sebab tak ada satu unsur apapun dalam kehidupan ini
yang membuatku kagum dan terpana

Kekuatanku tak akan menyentuh siapa-siapa
Karena aku tidak tertarik pada kemenangan atas manusia

Kubelanjakan tenagaku hanya sedikit saja
Sebab atas segala yang lemah hatiku tak berdaya

Kalaupun pikiranku mengembara sampai ke ruang hampa
Hatiku sudah lama selesai dan tak meminta apa-apa

Tak ada sekilaspun padaku mimpi menaklukkan dunia
Sebab dunia sangat murah harganya dan hanya beberapa
tetes keringat dari badanku yang kurelakan untuknya

Tak ada sedikitpun minatku terhadap kehebatan diri
karena jenis kelemahanku adalah kebiasaan
untuk mentertawakan diriku sendiri

Jika ada orang beramai-ramai tersesat menjunjungku
Volume kepalaku tidak membesar dan hatiku tetap bisa mengantuk

Jika mereka menemukan kebenaran sehingga menghinaku
Helai-helai buluku tidak berdiri bahkan kantukku bertambah lelap

Kebesaran dan kegagahan amat sangat aku remehkan
Dan tak akan pernah kukenakan sebagai pakaian

Apabila dunia menyangka aku mencintainya dan ingin mengawininya
Tentu karena ia tak tahu aku sudah mentalaknya sebelum pernah mencintainya

Barang siapa kegagahannya mendatangiku dan menggertak
Kusihir ia jadi katak
(Emha Ainun Nadjib/PmBNetDok/ 2004)

Sudah Bukan Diriku


Kalau aku sudah bukan diriku
Akankah lahir anakku yang berasal dari dirinya
Kalau manusia sudah tak sepenuhnya manusia
Adakah cara agar penerusnya kembali manusia

Kalau aku sudah hilang
Karena diriku digantikan
Oleh diri seragam produksi massal
Yang mana dari nilai-nilai yang masih mungkin tertinggal

Bangsaku sudah bukan bangsaku
Bangsaku bukan bangsa yang tumbuh
dari dalam diri kebangsaannya
Bangsaku hanya bahan dasar alam
Sebagaimana batubara yang ditambang
Dicetak oleh industri globalisasi
Dijadikan plastik dan robot barang dagangan
Pemerintahku adalah anjing herder
Pikirannya dikendalikan oleh stick holder

Merahkah ini hijaukah itu
Baikkah ini burukkah itu
Ditentukan tidak berdasar nurani dan akalmu
Karena sudah ada paket makro untuk itu

Mana maju mana mundur
Apa yang mulia apa yang hina
Siapa Nabi siapa teroris
Bukan hak kemanusiaanmu untuk menentukan

Bumi mengecil seukuran bola golf
Diambil dipukul diambil dibuang atau dikeranjang- sampahkan
Bangsaku terdaftar sebagai pelacur unggul tergolek di ranjang
Disetubuhi kapan saja Mr. Global Stick Holder menghendaki

Sekujur badan disemprot parfum demokrasi
Dihibur dengan lagu dusta tentang hak asasi
Mata dipejamkan ditiup dengan hawa toleransi
Mulut dingangakan, siap dituangi sperma globalisasi
Tetapi bangsaku tak kehilangan dirinya
Karena generasi yang ini sejak lahir memang sudah bukan dirinya

Hujan turun terlalu deras
Hujan ludah dan air liur para raksasa
Manusia dan negara dipersatukan oleh banjir
Dunia menyempit, menjadi sebuah bendungan

Bendungan itu
Bernama globalisasi
Hujan turun terlalu deras
Banjir global masuk sampai ke kamar pribadi
Menelusup sampai ke ulu hati
Bahkan otak sampai terbungkus oleh kerak tahi besi

Di manakah, dalam banjir itu, manusiamu?

Tak ada kegelisahan apapun atas hilangnya diri
Tak ada ketakjuban atas punahnya nilai

Apakah wajah yang kau temukan di kaca itu
benar wajah manusia

Sebab pada semuanya yang lebih menonjol
adalah tanda-tanda kehewanan
Yang lebih rajin muncul
adalah indikator kebinatangan
politik keserakahan
mobilisasi pelampiasan
ekonomi keborosan
globalisasi pemusnahan kemanusiaan
peruntuhan nilai-nilai batin
seluruh permukaan bumi sedang dirancang
menjadi hamparan lapangan golf
di mana para juragan global dengan stik-stik mewah
membidik dan melempar bola-bola golf
yang terbuat dari kepala-kepala manusia

Dan kalau engkau bertanya tentang aku
dengarlah pertanyaanmu itu kujawab
dengan penuh kebanggaan:
Aku adalah setan!
Aku adalah setan, yang riwayatku
ditulis oleh Tuhan sendiri di kitab suciNya
bahwa puncak sikapku adalah pernyataan suci
bahwa sesungguhnya aku takut kepada Allah
Apakah manusia takut kepada Tuhan?
Apakah bagi manusia, Tuhan cukup penting?
Tuhan tergeletak di belakang tumit setiap orang
Tuhan bukan subyek yang disertakan
dalam proses pengambilan keputusan

Kalau bangsa ini semakin tak memenuhi syarat untuk disebut bangsa
Kalau manusia kita semakin tak pantas disebut manusia
Adakah cara agar penerus kita kembali manusia?
(Emha Ainun Nadjib/2004/ PmBNetDok)

sesat pikir

Alangkah malang nasib bangsa yang sudah tidak mengerti nilai-nilai
Yang tidak mengerti, dan tidak mengerti bahwa ia tidak mengerti
Yang tidak mengerti, dan tidak mengerti dan tidak berupaya untuk mengerti
Sehingga ia melangkah kesana kemari dengan penuh percaya diri
bahwa ia seolah-olah mengerti

Alangkah malang nasib bangsa yang buta matanya tak sembuh-sembuh
yang membuang-buang kebenaran dan membenar-benarkan kejahatanan

Alangkah malang nasib bangsa
yang ilmunya kesesatan dan ruhnya kegelapan
yang sekolahannya kebodohan dan teknologinya kemubadziran
yang organisasinya penghancuran dan pembangunannya kesia-siaan

Alangkah menyedihkan nasib bangsa yang tidak pernah belajar
siapa sesungguhnya pemimpin mereka, dan siapa pengkhianat kehidupan mereka

Alangkah menggelikan nasib bangsa yang menjunjung-junjung berhala
dan meyakininya sebagai Raja
Yang menyembah-nyembah bedil dan menganggapnya sebagai ratu adil

Alangkah perih nasib bangsa yang dibohongi, kemudian diberi harapan,
kemudian dibohonginya lagi, kemudian diberi harapan lagi,
namun kemudian ternyata dibohonginya lagi

Alangkah konyol nasib bangsa yang beramai-ramai
membenci harimau sambil menyerahkan nasibnya kepada buaya.
(Emha Ainun Nadjib/2004/ PmBNetDok)

Kamis, 07 Agustus 2008

Kyai Jembatan

Sesudah nyantri 25 tahun dan diajari ngaji dan ngaji melulu, sang Kyai berkata kepadanya, " Sudahlah, sekarang kamu pulang ke desamu dan bikin pesantren "

Lelaki ndeso itu kaget ..." Lho ! bikin pesantren gimana ? Saya ndak bisa apa-apa", katanya.

Bikin pesantren itu kan perlu ilmu agama yang mumpuni, perlu modal, methoda dan kualitas iman yang prima.
"Pokoknya pulang dah, bikin pesantren ", perintah sang kiayi.
Ia pulang, dan tak bikin apa-apa. Bengong saja, di rumahnya yang buruk berlantai tanah, kerja di sawah dan di kebun.

Setahun kemudian ia memperoleh warisan hampir 10 juta rupiah. Habis dalam waktu beberapa hari saja. Padahal di rumahnya tak ada perubahan apa-apa. Orang sedesa bingung, untuk apa saja itu duwit ?

Ternyata ada seorang yang sedang pailit besar, dan si 'ndeso' itu memberikan seluruh jutaan uangnya untuk menolong Pak Pailit. Ia sendiri tetap melarat.
Pak Pailit inilah yang pertama-tama melihat lelaki itu sebagai seorang yang punya watak dan mutu Kiyai, ia berkata kepada setiap anak muda, " Bergurulah kesana ".

Mereka pun berdatangan kesana untuk nyantri. " Nyantri gimana ? Saya bukan Kiai.

Saya tak bisa apa-apa ", jawab sang Ndeso. Tapi anak-anak muda itu 'ngeyel' mau ikut dia. "Baiklah", ia berkata akhirnya.
" Ikutlah saya kerja di sawah, mengerjakan kebun, memperbaiki jembatan, bikin usaha, tingkatkan ketrampilan, sambil sholat bareng-bareng. "

Dalam waktu tak lebih dari tiga tahun dusun itu berkembang makmur.
Nge 'baldah thayyibah', nge'qoryah thayyibah'. Para santri tak pernah masuk kelas. Kelas mereka adalah sawah, kebun, desa, dan disitulah sang Kiai Jembatan kasih 'pelajaran', sambil rumahnya tetep berlantai tanah.
(Emha Ainun Nadjib/Secangkir kopi Jon Pakir/Mizan/ PmBNetDok)

Jumat, 01 Agustus 2008

Hadis Kemanusiaan

Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “Apa yang dimaksud dengan orang yang bangkrut (al-muflis)?”

Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut adalah orang yang hartanya ludes.”

Kata Rasulullah, “Sesungguhnya orang yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Akan tetapi dia pernah mencaci orang lain, mengambil harta orang lain, melukai orang lain, dan menyakiti orang lain. Maka, pahala (shalat, puasa, dan zakat [ibadah]) yang ia dapatkan akan diserahkan kepada orang-orang yang pernah ia zalimi. Jika pahalanya habis (untuk membayar dosa-dosa sosial yang pernah ia lakukan) maka dosa orang-orang itu akan diambil kemudian dibebankan kepadanya hingga ia tersungkur ke dalam neraka!” (HR. Muslim)

Dalam hadis ini Rasulullah menjelaskan makna al-muflis (orang yang bangkrut) dengan metode bertanya. Dalam dunia pendidikan, metode ini diyakini memiliki kekuatan tersendiri dalam menanamkan pemahaman kepada peserta didik. Ada yang ingin ditegaskan oleh Rasulullah untuk dipahami oleh para sahabatnya hingga ia memilih pola pembelajaran yang dimulai dengan pertanyaan.

Teks hadis itu keluar mengiringi sebuah konteks yang ada. Konteks keluarnya hadis ini adalah kondisi yang terjangkit oleh indikasi “tidak sehat” yang mungkin ada dalam jiwa dan pikiran masyarakat. Atau, sebagai upaya antisipasi kemungkinan terjadinya kesalahpahaman mereka terhadap ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah. Kadang kala saya terecengang-cengang membaca hadis-hadis tertentu karena menangkap sesuatu yang sangat dalam dan sangat modern karena mengandung semangat humanisme yang tak tergambarkan pada masanya. Ketercengangan saya mirip dengan pujian seorang sosiolog Amerika, Robret N Bella, yang dalam bukunya Beyond Belief (1976) mengatakan bahwa Konstitusi (Piagam) Madinah yang dibuat oleh Muhammad terlalu modern bagi zamannya.

Mengapa Rasulullah melontarkan pertanyaan itu? Tersirat sangat dalam bahwa hadis itu mengandung semangat menggeser paradigma masyarakat yang dihadapi oleh Rasulullah ketika itu. Pergeseran paradigma (paradigm shift) yang dimaksud adalah menyadarkan masyarakat agar tidak terjerumus pada semangat materialisme dalam kehidupan. Yang ditanyakan oleh Rasulullah adalah sesuatu yang sangat dekat dengan paradigma materialisme: orang yang bangkrut. Orang yang bangkrut akan selalu diandaikan sebagai orang yang gagal dalam mengembangkan bisnis atau perdagangan. Orang yang bukan saja tidak mendapatkan untung, tapi juga kehilangan modal. Dalam konteks ini, jawaban para sahabat sama sekali tidak keliru.

Tanpa mengatakan kekeliruan jawaban para sahabat, Rasulullah langsung memberikan penjelasan lain tentang makna orang yang bangkrut. Dalam penjelasan ini ia menghentakkan kesadaran mereka bahwa yang dimaksud orang yang bangkrut adalah orang yang kehilangan pahalanya akibat kezaliman yang ia lakukan. Orang tersebut telah mendapatkan pahala dari ibadah-ibadah yang ia lakukan, baik shalat, puasa, dan zakat. Namun, karena sering melakukan kezaliman terhadap orang lain maka ia harus menanggung akibat yang sangat merugikan. Bukan hanya itu, ia bahkan harus menanggung dosa-dosa yang diambilkan dari orang-orang yang pernah ia zalimi karena pahalanya sudah tidak cukup untuk menutup kezaliman yang ia lakukan.

Shalat, puasa, dan zakat yang disebut dalam hadis adalah simbol dari ibadah mahdhah (murni). Islam memang sangat menekankan hal ini. Ayat dan hadis terlalu banyak yang menyebutkannya dan menunjukkan konsekwensi bagi orang yang melakukannya dan orang yang meninggalkannya. Orang yang mengerjakan shalat, puasa, zakat dan lain-lain akan mendapatkan pahala dari Allah. Orang yang meninggalkan itu semua akan mendapatkan siksa dari-Nya. Berdasarkan bukti-bukti tekstual yang ada maka shalat, puasa, dan zakat memiliki hukum wajib untuk dikerjakan. Dalam disiplin ilmu ushul fikih, tiga hal ini masuk dalam kategori ma’lûm min al-dîn bi al-dharûrah (sesuatu yang status hukumnya sudah diketahui secara pasti dalam agama).

Motivasi hukum ini kemudian mendorong umat Islam untuk melakukannya dan takut meninggalkannya. Mereka menyadari bahwa kewajiban melakukan itu semua bersumber dari Tuhan. Jika mereka tidak melakukan, maka Tuhan akan murka dan menyiksa. Jika mereka melakukan, maka Tuhan akan senang dan memberikan pahala kepada mereka. Logika transaksional-fertikal seperti inilah yang memengaruhi pola pikir sebagian muslim dalam menjalankan ajaran agama.

Logika transaksional-fertikal dalam pribadi seorang hamba ketika berhadapan dengan Tuhan melahirkan semangat egoisme. Satu ideologi yang tidak pernah berpikir untuk orang lain. Apa pun yang dilakukan harus menguntungkan diri sendiri. Tanpa disadari, ketika seorang hamba menyapa Tuhan dengan logika transaksional-fertikal ini berarti ia sedang memposisikan (mempersepsikan) Tuhan sebagai seorang raja yang menakutkan. Ia akan memberikan hadiah besar kepada orang yang tunduk dan patuh kepadanya dan akan menyiksa orang yang tidak tunduk dan tidak patuh kepadanya. Raja seperti ini tidak akan pernah peduli pada kebaikan dan kejahatan yang ditujukan kepada selain dirinya. Dia hanya menilai segala sesuatu yang hanya ditujukan kepadanya.

Dalam dunia kerja, seorang atasan akan mengalami kerugian yang amat besar jika memiliki anak buah yang bermental transaksional-fertikal dalam berinteraksi dengan dirinya. Anak buah macam ini akan menerapkan prinsip “asal bapak senang (ABS)” ketika berhadapan dengan atasan. Orang seperti ini dapat dipastikan melakukan tindak-tanduk yang merugikan secara horisontal. Ia tidak peduli terhadap hubungan horisontal karena ia hanya berpikir mencari keuntungan fertikal yang hanya kembali kepada dirinya sendiri. Lambat laun, besar atau kecil, perusahaan (organisasi) akan mengalami kerugian karena sosok manusia seperti ini. Orang seperti inilah yang kita kenal dengan istilah “penjilat”.

Mungkinkah menjilat pada Tuhan? Mungkin sekali! Akan tetapi Tuhan bukan manusia. Tuhan tidak pernah alpa dari segala tindakan yang dilakukan oleh hamba. Boleh jadi seorang hamba berpikir menjilat Tuhan dengan melakukan perintah-Nya berdasarkan logika transaksional-fertikal. Tapi logika itu sama sekali tidak ngaruh bagi-Nya. “Kebaikan (ibadah) apa pun yang engkau lakukan untuk-Ku tidak akan memiliki nilai di hadapan-Ku jika interaksi sosialmu tidak baik terhadap sesama.” Begitu kira-kira firman Tuhan kepada hamba yang menjilat-Nya.

Ibadah (agama) yang diajarkan oleh Allah kepada manusia sejatinya untuk kebaikan manusia, bukan untuk Tuhan. Kita yakin bahwa Tuhan mahakaya dan mahakuasa. Ibadah yang kita lakukan tidak menambah kekayaan-Nya dan maksiat yang kita lakukan pun tidak mengurangi kekayaan-Nya. Keyakinan sederhana ini memiliki dampak sosial yang luar biasa. Sayang, kita sering melupakannya.

Salah satu misi Muhammad sebagai seorang Rasul adalah mengubah bentuk ibadah dan keyakinan masyarakat Mekah. Ketika itu, sebagaimana kita tahu, mereka menyembah berhala-berhala. Apa yang salah dari para penyembah berhala? Rugikah Tuhan karena mereka menyembah berhala? Sama sekali tidak. Lalu mengapa Tuhan memerintahkan Rasulullah mengubah keyakinan mereka? Ada pelecehan kemanusiaan dalam penyembahan terhadap berhala. Manusia adalah makhluk paling mulia, mengapa harus menyembah sesuatu yang lebih rendah dari dirinya? Secara sosiologis penyembahan berhala mengandung penindasan para kapitalis zaman itu terhadap masyarakat dan melahirkan kultur feodalistik yang tidak sehat.

Islam datang menebarkan pesan tauhid. Berhala-berhala itu bukan Tuhan. Tuhan adalah esa, gaib, ikonoklasme, dan tak mengenal kasta. Di hadapan Tuhan semua manusia setara. Islam datang melabrak konsepsi sosial yang melingkupi kegiatan penyembahan berhala. Ujung-ujungnya Islam ingin mempertegas kemanusiaan. Inilah gagasan yang teramat modern di jamannya. Maka, ketegangan dan konflik antara primitivitas dan modernitas tidak bisa dihindari.

Gagasan kemanusiaan (humanisme) terkandung begitu tegas dalam hadis di atas. Rasulullah mengeritik orang-orang yang terperangkap pada logika transaksional-fertikal dalam berhubungan dengan Tuhan. Orang-orang seperti ini cenderung mengabaikan hubungan kemanusiaan. Ada kecenderungan menganggap manusia tidak penting ketika ibadah-ibadah sudah ditunaikan. Saya malah berpikir bahwa saat ini banyak orang yang mengaku menyembah Allah, tapi sikap sosial mereka tidak jauh berbeda dengan para penyembah berhala. Bahkan, ada orang yang menyakiti manusia dengan dalih membela Tuhan ... Tuhan telah diberhalakan!

Sehebat apa pun perilaku ibadah seseorang tidak akan ada artinya di hadapan Tuhan jika ia sering menyakiti orang lain. Tuhan sangat menghargai kemanusiaan. Inilah inti pesan yang ada dalam hadis di atas. Inilah yang saya maksud sebagai sesuatu yang sangat modern: menjujung tinggi nilai-nilai humanisme yang untuk memahaminya kita perlu terus belajar. Sebab, humanisme bukan dogma. Ia sebentuk temuan intelektual dan spiritual yang membutuhkan waktu cukup panjang.

Terakhir, pasca hari raya Idul Fitri kita sering mengadakan acara Halal bi Halal. Kegiatan ini hanya ada di Indonesia. Inilah tradisi muslim Indonesia karena Halal bi Halal tidak dikenal oleh masyarakat muslim selain muslim Indonesia. Nah, hadis di atas sangat layak dijadikan landasan perlunya menciptakan tradisi Halal bi Halal yang makna sederhananya adalah saling memaafkan. (Taufik Damas)